Oleh: Wilson Arafat
"Seorang penulis wajib membangun SOFT SIDE yang powerfull dan menghujam ke ceruk nurani yang paling putih, jika dan hanya jika, hendak menjadi A Grand Writer." (Wilson Arafat, 2010).
Mau mencari orang pintar, cerdas dengan segudang pengalaman? Gampang sekali bukan?. Mereka ada dimana-mana. Argumennya? Karena, sesungguhnya semua insan yang pernah dan/atau telah terlahir di dunia fana ini adalah makhluk yang paling unggul. “Filosofi Sperma” menunjukkan dan/atau mengajarkan kepada kita semua bahwa betapa sesungguhnya semua Anak Adam di kolong langit ini adalah ciptaan Tuhan yang paripurna. Berdasarkan hasil kajian ilmu kedokteran menunjukkan bahwa dari sejumlah sperma yang terpancarkan melalui cinta paling bening orang tua: anda, saya dan kita semualah yang tercepat, terkuat, dan terunggul sehingga dapat “menyingkirkan” jutaan calon janin lainnya.
Berdasarkan apa yang penulis lihat, apa yang penulis dengar dan apa yang penulis baca, ketika orang-orang pintar lagi cerdas dengan segudang pengalaman itu ditanya, inginkah menjadi seorang penulis yang handal? Umumnya mereka menjawab ya!. Berpotensikah mereka? Absolutely, yes!. Pintar, cerdas ditambah segudang pengalaman yang dimiliki seseorang merupakan modal utama untuk menorehkan ayat-ayat emas melaui aktivitas menulis, selain piawai alias menguasai ilmu menulis. Penulis menyebut “modal” ini sebagai hard side yang menjadi katalisator, berjalin berkelindan sehingga mampu mencuatkan seseorang sebagai a grand writer. Tegasnya lagi adalah seorang penulis ulung harus menguasai ilmu menulis dan ilmu yang ditulis. Prof. Roy Sembel, PhD misalnya, kedalaman ilmu yang dikuasai plus kepiawaian beliau dalam ilmu menulis menjadikan kalimat-kalimat yang ditulisannya mudah dicerna, perlu dan enak dibaca oleh berbagai kalangan. Dapat kita saksikan pula karya-karya politikus bahkan negarawan sekaliber Bung Hatta, atau buku-buku politik hasil karya peneliti-peneliti yang pakar, tulisan-tulisan mereka dapat dengan segera diamini oleh pembaca karena kedalaman ilmu politiknya, paling tidak disegani dalam wacana konstelasi kancah percaturan politik yang begitu dinamis. Demikian halnya dengan penulis-penulis ternama dari manca negara, hard side yang mereka miliki tidak diragukan lagi kehandalannya. Buku-Buku dalam bidang ilmu ekonomi dan manajemen misalnya, biasa dikarang guru-guru besar terkemuka dengan nama yang tersohor. Karya-karya Adam Smith, Irving Fisher, Peter F. Drucker, Michael Porter, Kenichi Ohamae ataupun Philip Kotler menjadi handbooks di berbagai universitas, dikaji sebagai buku wajib bagi kebanyakan mahasiswa yang mendalami ilmu ekonomi dan manajemen di seluruh dunia. Dalam bidang filsafat, filosof-filosof tersohor sepanjang zaman menghasilkan karya-karya yang sungguh luar biasa. Nama-nama seperti Aristoteles, Socrates, Plato ataupun Heraclitus, torehan tinta mereka tajam menghujam sejarah, begitu dihormati, memberikan kecerahan cakrawala berpikir bagi anak manusia di alam semesta ini. Namun demikian, kalau kita cermati secara mendalam lagi, hard side yang handal an sich, tidak cukup memadai untuk menjadi penulis ternama. Lebih banyak lagi manusia-manusia pintar, cerdas dengan seabrek pengalaman belum mampu menghasilkan karya-kaya tulis terbaik, yang seharusnya dapat mereka wujudkan dengan sangat mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan, karena kepintaran mereka. Vice versa, seorang wanita yang pernah berkarir sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong beberapa tahun silam bernama Eni Kusuma, mampu mengukir namanya menjadi salah satu penulis yang diperhitungkan di Tanah Air. Dengan bekal pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi, Eni Kusuma berhasil menulis puisi bersama seratus penyair Indonesia yang dibukukan dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter. Tidak hanya puisi, perempuan kelahiran Banyuwangi yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, mampu menelurkan cerita fiksi yang telah dimuat di berbagai media (juga dibukukan). Dan, luar biasanya lagi, Eni Kusuma berhasil menulis buku laris dengan judul “Anda Luar Biasa”. Bahkan, saat ini telah menjadi seorang motivator dan menjadi narasumber berbagai seminar di sejumlah perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Nusantara. Apa rahasianya? Ternyata, mereka yang berhasil menjadi penulis ternama itu memiliki apa yang penulis namakan sebagai soft side, selain hanya sekadar hard side. Ini adalah nilai-nilai (value) yang diyakini seseorang sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi “ruh” pengerak seseorang untuk berperilaku sebagai penulis. Bila hal ini berhasil ditancapkan kedalam ceruk nurani yang paling putih, maka tak ayal lagi menulis akan menjadi “darah daging” kita; denyut jantung kita, demi menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan memancar energi dan aura yang sungguh dahsyat sehingga membuat kita dibimbing dari “langit” untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir gitu loh. Dengan demikian, seorang penulis wajib membangun soft side yang powerfull dan menghujam ke ceruk nurani yang paling putih, jika dan hannya jika, hendak menjadi a grand writer. Seperti apa itu? Nantikan tayangannya pada edisi berikut.
Salam hangat dari kampoengpenulis.com.
| < Prev | Next > |
|---|























Wilma Rudolf, terlahir sebagai anak ke-20 dari 22 bersaudara dalam kondisi yang begitu memprihatinkan: prematur dengan harapan hidup sangat tipis. Lolos dari maut, pada usia 4 tahun bergelut dengan penyakit radang paru-paru dan dihantam demam scarlet sehingga kaki kirinya lumpuh.
Kegagalan di masa lalu saya merupakan pelajaran yang sangat berharga yang akhirnya berbuah kesuksesan. Saya belajar banyak dari kegagalan saya, saya bisa menjadi ‘lebih pintar’ karena saya pernah gagal. Saya pernah gagal, tapi saya masih di sini…Saya tidak membiarkan kegagalan merampas impian saya untuk dapat bekerja dari rumah saja (AM)
